Tuan, apakah tahta itu masih aku pemiliknya?
Tuan, apakah tahta itu masih aku pemiliknya?
Jika bukan, longgarkan
Ku fikir selamanya itu nyata
Naif ku,
Ku fikir memberikan segalanya itu Cinta sebutannya
Fikir ku,
Seperti hamba mengemis iba
Menjadi badut hanya demi mendapatkan tatap mata
Haha... terkadang tidak ada alasan untuk tidak berkata ''YA''
Padal dibalik kata itu ada rumitnya logika yang tidak bisa dicerna
Tuan,
Katamu, semua akan baik saja jika aku percaya
Katamu, tubuh mungil ini akan selalu terjaga
Katamu, tidak akan ada air mata yg tidak kau seka
Kembali lagi itu kata mu...
beberapa taun yang lalu seingatku,
Tapi aku lupa, kita masih manusia
Ada sesuatu yang dapat menggerus rasa
Kita sebut ''masa''
Beribu kata yang dulu terus terucap ketika kita bersama,
Beribu pilu yang menderu ketika kita tidak bisa bersua,
Tangis yang menggema di ujung lara,
Ketika kita saling menggoreskan luka,
Genggaman tangan yang seolah terpatri kekal,
Pelukan hangat terasa sampai ke raga,
''Masa'' telah merenggutnya!
Ya, saat ini...
Seperti kelu bibirmu untuk sekedar berucap kata pada ku
Seperti tidak ada tenaga untuk sekedar merengkuh tubuh ku
Bahkan mungkin aroma tubuhku sudah samar bagimu
Rengekankan mungkin genderang yang mengganggu pendengaranmu
kita hanya seperti sepasang angsa yang tinggal di kandang yang sama
Jika memang sudah bukan namaku yang kau tuju
Tolong biarkan aku terbang bebas bersama sisa rasaku untukmu
Bersama sisa asa ku akan setiap tutur janjimu
Comments
Post a Comment