Ibu
Sekiranya puluhan tahun yang lalu
Riuh, mengaduh gaduh
Luka, tangis dan bahagia bersua
Dengan peluh penuh dan nafas yang hampir terjeda
Mata berkaca tangan bergetar merangkuh luruh
Bulan sabit perlahan melengkung di bibirnya
Seorang perempuan baru saja menaruhkan nyawanya
Tenang saja…
Luka itu akan segera sirna
Perlahan terkikis tingkah polah senyum manja
Bocah kecil tanpa dosa yang selalu terucap namanya
Kau tau siapa? Kita.
Segala syair rima kata harap tak lupa doa selalu terpanjat
Ya, suara itu tak pernah sumbang "Ibu"
Lihat…
Dewasa itu menyenangkan bukan?
Ketika bait kata yang keluar dari mulut kita mejadi senjata, remuk dan luka
Ucapnya yang acap kali teracuhkan
Pintanya yang terlampau sering terbantahkan
Langkah kaki diatas permadani
Berkalung kerangka duri mendangak tegakkan kepala
Bersorak diatas tangga yang terlebih tingginya
Hebatkah kita?
Deras air mengucur dari langit terjatuh dan terpental di dasar laut
Tertampar, siuman, raga terperanga
Ada bait indah nama kita selalu terangkai disebuah pinta dan doa
Yaa…
Semua tampak sempurna bukan?
Jalan rata terbuka ilalang bersandar mesra tanpa halang
Jimat mantra mana yang mampu menyainginya?
Bungkam terdiam simpuh lusuh
Tersontak, bukan…bukan…bukan karena kita.
Tapi doa nya. Yaa…ibu.
Semua akan baik baik saja bukan selama bibir indah itu terus melafalkan nama kita
Sampai tersadar, waktu bagai peluru,
Melesat cepat tanpa mengenal cakram
Ketakutan terbesar adalah, tak ada lagi nama kita terucap disetiap sudut sujud
Semoga waktu sudi melambat
Semoga Tuhan berkenan atas kala
Memberi tempo untuk kita mampu merajut raut bahagia
Mendekap membalut setiap goresan yang menoreh
Menyeka lembut lebur laranya
Memberi cinta luar biasa
29/07/24
Comments
Post a Comment